Saturday, September 10, 2016 0 comments

Daddy, how are you today?

Somehow, in this kind of situation, I miss my father so much.
He's so kind, a warm-hearted person. dan saya bangga banget jadi anaknya.
Ayah saya meninggal tanggal 25 september 2012 lalu, meninggalkan kami dengan milyaran kenangan baik dan lucu-lucu. ayah saya jarang sekali bikin saya kecewa, tapi mungkin saya sering mengecewakan beliau. haha.
Maafin aku ya, pap...
Ayah saya adalah seorang humanis dan aktivis lingkungan, walaupun beliau tidak pernah menyebutkan bahwa dia adalah seorang humanis dan aktivis lingkungan.
sejauh yang saya ingat, beliau selalu berkontribusi dalam urusan kemanusiaan dan perbaikan alam, secara terang-terangan atau diam-diam. secara langsung maupun nggak langsung. nyumbang ini itu ke panti asuhan dan panti-panti lainnya dalam bentuk apapun yang beliau sanggup, nebar bibit pohon di area hutan-hutan yang gundul (ayah saya dulu pernah menjabat sebagai polisi hutan), nyebar bibit karang di pantai-pantai, benerin hutan-hutan yang udah jelek, dan lain-lain.
Ayah saya juga punya hubungan sosial yang baik dengan orang-orang. Nggak jarang ada orang-orang yang dateng ke rumah hanya untuk berkonsultasi dengan beliau mengenai masalah-masalah apapun, meminta pendapat dan masukan. Menurut temen-temennya, beliau adalah orang yang sangat bijak. beliau punya banyak temen baik yang selalu ngomongin yang bagus2 tentangnya. Lagi-lagi, sejauh yang saya ingat, saya ga pernah dengerin hal-hal jelek tentang beliau dari mulut temen-temennya atau keluarganya. sampai sekarang pun, ketika beliau udah ga ada, orang-orang tetep ngomongin yang bagus-bagus soal beliau.
For me, He's the best daddy in the world.
Dia selalu bisa bikin saya kagum tentang banyak hal, tentang gimana dia hapal semua nama-nama tanaman, herbal atau pun non herbal, berbunga atau nggak. Dia orang yang sangat paham soal agama dan banyak cerita ke saya soal kisah nabi-nabi dan sahabat rasul. Beliau Jago sekali menggambar dan bikin apapun, dari mulai bikin kerajinan dari tanah liat, bikin anyaman, bikin kruistik, apapun lah pokoknya. bahkan bikin furniture pun dia jago!
Beliau bukan orang yang banyak bicara. ayah saya lebih sering diam dan mendengarkan orang-orang, sesekali melontarkan berbagaimacam lelucon yang selalu lucu (nggak kayak saya yang garing dan kriuk), dan nasihat yang dia keluarkan dari mulutnya selalu bijak dan mudah dimengerti. beliau jarang sekali marah, dan apapun yang saya lakukan beliau selalu menasehati saya dan keluarga dengan baik.
sekali lagi, saya kangen banget sama beliau.
pengen ke makam, tapi nggak ada temen dan ga ada waktu karena semua orang sedang sibuk (termasuk saya sendiri sih). pengen banyak-banyak cerita sama beliau tentang gimana aktivitas saya sekarang, gimana akhirnya saya dapet kerjaan, gimana saya ikutan aktivitas-aktivitas sosial mengikuti jejaknya, tentang kucing-kucing saya yang pintar, abang saya yang baru beli mobil, dan soal kuliah saya yang sampai sekarang belum kelar (tapi saya yakin dia ga bakal masalah soal hal ini sih, paling ketawa doang).
Papa, apa kabar Papa hari ini? Apakah Papa bahagia?
Semoga Papa selalu dilimpahi berkah di sana ya, pap.
kami disini kangen sekali sama papa. :)
Thursday, September 8, 2016 0 comments

Halo! Ini saya (lagi)!

Halo. ini postingan pertama saya di blog ini. Semoga bisa terus berlanjut sampai ratusan bahkan ribuan postingan berikutnya.
Semoga.
Hm.

Sebenernya saya udah beberapa kali bikin blog, kebanyakan sih saya hapus blognya karena kurang sreg sama bahasa yang saya pake. Bahasanya ga nyante dan terlalu nyastra dan lain2 alasannya. Sebenernya (juga) saya punya alasan kenapa saya nulis dengan bahasa yang ga nyante dan terlalu nyastra, dan alasan itu berhubungan dengan alasan mengapa blog ini dibuat. Nah sekarang, mari blak-blakan. hahaha.

Dulu saya SUKA BANGET nulis dan baca. nulis dan baca apapun. dari nulis artikel, review buku, review komik/manga/anime, baca novel2 teenlit, baca novel sastra, cerpen koran, majalah, koran, apapun lah, you name it. Tapi sejak kuliah saya udah ga bisa kayak dulu lagi.

Kenapa?

Nah sebenernya alasannya agak menyalahkan "orang" lain sih ya, tapi karena disini saya bener-bener bakal blak-blakan, saya bakal tulis semuanya sih. semacam sudah tidak peduli. tapi ini saya tulis bukan untuk bener-bener menyalahkan sih, karena ini cuma pendapat dan saya ga bermaksud untuk menjelek-jelekkan siapapun. cuma saya aja yang kurang cocok sama sistem/ "doktrinnya" mungkin.

mungkin.

Well, jadi saya kuliah di Jurusan Pendidikan bahasa dan sastra indonesia di suatu universitas yang ga perlu saya sebutkan namanya. mau ada yang nebak-nebak monggo, mau ga ditebak juga lebih bagus. hahaha. Dan ya ketika sejak awal saya belajar disana saya udah dicekoki macam-macam pemahaman yang menurut saya pribadi malah merusak karakter orang ya. entahlah. saya cuma ga suka aja.

jadi menurut mereka, ya para dosen ya para mahasiswanya, yang namanya sastra itu harus punya pakem. ada karya-karya tulis fiksi yang mereka ga bisa sebut itu sastra karena bahasanya yang menurut mereka jelek (atau, saya pernah denger mereka menyebut karya-karya itu dengan "sampah", istilah yang sangat kasar sekali). setiap hari, setiap hari, dan setiap hari, saya dicekoki bagaimana "sastra" itu seharusnya ditulis. bagaimana diksi yang bagus dan sempurna. bagaimana seharusnya novel/cerpen dibuat.

dan jujur ajaaa sih, awalnya karena saya baru masuk kuliah sih ya, merasa masih awam-awam gitu, lalu saya setuju-setuju aja sama pendapat mereka.

sampai akhirnya, suatu hari, saya menemukan bahwa novel yang saya sukai saat SMA karena plot dan alurnya yang bagus, sudah tidak menarik lagi dengan alasan yang sepele sekali menurut saya. diksinya kurang bagus. tidak seperti apa yang dosen-dosen dan para kakak tingkat bilang bagus. karya "sampah". di saat itu saya tiba-tiba saja muncul perasaan jijik ketika membaca novel tersebut. lalu saya bawalah novel itu ke kampus, saya tunjukkan ke rekan saya, dan ya mereka sependapat dengan saya bahwa karya tersebut adalah "sampah".

saya mengalami fase diatas selama.....beberapa smester. saya lupa tepatnya.

lalu tibalah dimana saat saya mencoba menulis sebuah novel. jalan cerita dari A sampai Z nya udah ada di otak saya. tinggal ditulis dan memainkan kreativitas dan menjaga keselarasan antara otak, hati, dan tangan aja, dibubuhi sedikit niat kuat, Insya Allah jadi sih itu novel.

lalu saya mendadak mandek ditengah penulisan novel itu.
ah nggak, bahkan nggak setengahnya. mungkin seperempat? atau mungkin lebih sedikit dari itu.
ah sudahlah, yang jelas saya mandek. semandek-mandeknya.

disitu saya baru menyadari bahwa menyelesaikan sebuah karya itu sesulit itu lho. butuh niat yang lurus selurus-lurusnya agar sebuah karya bisa selesai ditulis.

itu adalah hal pertama yang bikin saya merasa sangat jahat sudah menganggap sebuah (bahkan beberapa) karya sebagai sampah, hanya karena diksi yang mereka tulis tidak sesuai dengan apa yang dosen dan kakak tingkat saya ajarkan kepada saya.

hal yang kedua adalah.

saya lupa sedang berdiskusi tentang apa saat itu dengan salah seorang teman saya. ada satu kalimat yang benar-benar membuat saya sadar.

"sama kayak lukisan, novel dan cerpen juga karya seni, ya kan?"

seni tidak mempunyai batasan, dan teman saya benar. sastra adalah seni. novel dan cerpen adalah karya sastra.
menyelesaikan karya seni butuh sebuah effort, dan itu tidak mudah. menyepelekan karya mereka (apalagi jika kamu tidak punya karya yang sudah dipublikasikan seperti mereka yang kamu hujat) itu jahat.

sekali lagi, ini pendapat saya pribadi lho. hahahha.

yak, cukup dengan menyalahkan orang. wahahaha.
intinya, saya pengen belajar nulis lagi kayak dulu. saya ingin kembali merasakan yang namanya kenikmatan nulis dan baca sesuatu. dan iya, ini nggak mudah. bahkan nulis ini aja saya masih agak maksain diri karena nggak suka ngeliat diksi saya yang jelek banget dan (emang sengaja) nggak saya atur. hahaha. doakan agar saya kembali ke diri saya yang dulu, yang bisa senang dan tenang dengan membaca dan menulis, bukan gregetan karena ngeliat tulisan orang yang (menurut pakem) nggak bagus.

salut bagi para penulis!!


 
;